MENYUSURI JEJAK TRANSPORTASI SUNGAI KALIPUCANG-CILACAP

Image

SEDIMENTASI Sungai Citanduy dan Sungai Saga­raanakan di ka­wa­san Cila­cap disebut-sebut menjadi penyebab transportasi su­ngai Kalipucang-Cilacap, me­redup. Sebelum tahun 2000-an, kapal besar de­ngan kapasitas angkut ma­nusia dan barang sangat besar bolak-balik Kalipu­cang – Cilacap tanpa ham­bat­an. Selain itu, pembangunan Jembatan Pancimas (Pa­ngandaran-Cilacap-Ba­nyumas) yang menghu­bung­kan Kalipucang (Ja­bar) dengan Cilacap (Ja­teng) turut menjadikan gai­rah bertransportasi melalui jalur sungai kian lesu. Pa­sal­nya, warga Kalipucang dan sekitarnya yang akan ke Cilacap tentu lebih memilih lewat jalur darat karena wak­tu tempuh lebih cepat, ketimbang jalur sungai.
Transportasi jalur sungai Kalipucang-Cilacap dengan menggunakan kapal-kapal besar berhenti sekitar tahun 2002. Akibat sedimentasi Sungai Citanduy, pihak Pem­prov Jabar memindah­kan pelayanan tranportasi sungai dari Sontolo, Kali­pucang ke Majingklak, Desa Pamotan.
Di kawasan Majingklak, Desa Pamotan, Pemprov Ja­bar membangun pela­buh­an sungai yang cukup representatif. Selain dermaga (tempat bongkar-muat barang) dibangun pula ba­ngunan cukup megah untuk pelayanan kepada calon pe­numpang.
Disayangkan, aktivitas transportasi sungai dari Ma­jingklak–Cilacap tidak berumur lama. Dua buah kapal ferry besar yang me­layani jalur tersebut kemudian tidak beroperasi lagi, karena diduga sedimentasi di sekitar Sungai Sagara­anakan (Cilacap) dan anak sungainya menjadi kendala perjalanan kapal besar. Di sisi lain, meredupnya transportasi melalui jalur sungai, diyakini akibat adanya jembatan yang dapat menghubungkan Kalipucang (Jabar) dengan Cilacap (Jateng). Warga Kalipucang dan Cilacap, tampaknya lebih memilih lewat jalur darat daripada melalui jalur sungai. “Saya tentu lebih baik menggunakan sepeda motor atau ken­daraan umum jika mau ke Cilacap. Dengan bersepeda motor ke Cila­cap, hanya menghabiskan waktu sekitar dua jam, sedangkan dengan menggunakan perahu (kapal) menghabiskan waktu sekitar empat jam,” kata warga Kalipucang, Suarno. 
Diakui Suarno, ketika Jembatan Pancimas belum dibangun dan kapal besar masih beroperasi dari Kalipucang ke Cilacap, ia seringkali menggunakan moda angkutan tersebut. Menurut dia, sensasi naik perahu/kapal lebih terasa dibanding naik sepeda motor. “Keasyikan naik perahu jelas lebih terasa Mas. Sepanjang perjalanan, kita bisa menikmati panorama alam dan semilir angin yang sejuk,” kata Suarno.

KEBERADAAN kapal-kapal besar pada masa lalu, sebenarnya telah membentuk pola perjalanan wisata Jabar dan Jateng. Seringkali wisatawan mancanegara yang berlibur ke Yogyakarta kemudian melanjutkan perjalanan wisata ke Pangandaran dengan naik kapal dari Cilacap ke Kalipucang (Pangandaran).
Demikian sebaliknya, wisatawan asing yang berlibur di Pangandaran, banyak di antara mereka yang melanjutkan pelesirannya ke Yogyakarta melalui perjalanan sungai dari Kalipucang ke Cilacap. Perjalanan mereka dari Pangandaran ke Kalipucang menggunakan kendaraan darat, kemudian dari Kalipu­cang–Cilacap menggunakan lajur sungai, serta dilanjutkan dari Cilacap ke Yogyakarta menggunakan kendaraan darat.
“Dulu ketika kapal besar masih beroperasi, perjalanan 

sungai Cilacap–Kalipucang itu menjadi pola perjalanan wisata, khususnya bagi wisatawan mancanegara. Selesai berlibur di Jogjakarta, selalu mereka ke Pangandaran melalui jalur sungai dari Cilacap ke Kalipucang,” kata Udin, mantan pengemudi salah satu travel di Pangandaran.
Menurut Udin, pada saat wisatawan asing tersebut menggunakan jalur sungai, ia menunggu wisatawan di Pelabuhan Sentolo Kalipucang. Dikatakan Udin, setelah menurunkan membawa wisatawan dari Yogyakarta ke Cilacap, ia kemudian berangkat ke Kalipu­cang via Banjar Patroman.
“Sayang sekali, pola perjalanan yang sudah berjalan begitu bagus, sekarang tampaknya hilang, seiring berhentinya kapal-kapal besar Kalipucang-Cilacap. Padahal ketika itu, kepariwisataan Pangandaran dikenal wiatawan asing karena perjalanan sungainya,” terang Udin.
Terlepas dari sensasi wisatawan asing yang sangat senang melakukan perjalanan Cilacap-Kalipucang atau sebaliknya menggunakan jalur sungai, fakta yang ada sekarang di perairan Kalipucang – Majingklak memang memiliki potensi alam yang menarik. Di sekitar kawasan Kalipucang – Majingklak terdapat berbagai jenis ikan dan aneka burung langka.
Para penggemar memancing tentu sangat mengenal kawasan perairan Pelawangan, Palataragung, dan Karapyak. Karena lokasi tersebut dekat dengan Segaraanakan, Cilacap (berjarak 200 meter dari Majingklak) yang ditengarai sebagai tempat kembang biak ikan, maka berbagai jenis ikan dari seluruh dunia terdapat di lokasi tersebut.
Warga lokal menyebut berbagai jenis ikan yang bermigrasi dari negara lain, dengan sebutan sendiri, seperti ikan bagad, ikan budiman, ikan torang. Konon, ikan-ikan tersebut habitat aslinya terdapat di negara Australia.
Selain itu, di kawasan Majingklak dan sekitarnya terdapat 85 jenis burung, termasuk bangau bluwok (mycteria cinerea) dan bangau tongtong (leptoptilos javanicus). Padahal kedua burung tersebut, diidentifikasi sebagai burung terancam punah. Di kawasan hutan mangrove maupun paparan lumpur Majing­klak, ditemukan burung yang dilindungi,di antaranya cangak abu, kuntul besar, kuntul perak, kuntul kecil, bangau tong-tong, camar, raja udang, burung madu, dan elang ikan. )’Ab@h*

Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s